Pustaka Lebah, selaku media anak yang kreatif edukatif, bekerjasama dengan Ancol Art Academy akan menggelar sebuah pertunjukkan Opera Anak Pustaka Lebah dengan judul “The Tale of Missing Unicorn : Misteri Unicorn yang Hilang”.
Dengan didukung oleh 77 pemain anak-anak di setiap pertunjukkan, Opera Anak Pustaka Lebah juga melibatkan beberapa alumni Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dalam persiapan dan penyelenggaraannya. Adapun waktu pementasan Opera Anak Pustaka Lebah terbagi menjadi 3 , mulai tanggal 27 Juli 2008, 09 Agustus 2008, dan 24 Agustus 2008.
Cerita Opera Anak Pustaka Lebah “The Tale of Missing Unicorn : Misteri Unicorn yang Hilang” ini mengangkat tema tentang persahabatan, kerjasama, kejujuran dan nilai-nilai kebaikan universal lainnya. Tokoh utama cerita ini adalah Trio-B : Bima, Welbi dan Bembi. Mereka bertiga diundang untuk datang dari dunia manusia ke Negeri Peri Hutan Jamur. Rupanya Unicorn ajaib milik Ratu Peri Bianglala telah diculik dan hilang entah kemana. Dengan bantuan seluruh peri penghuni Hutan Jamur, Bima, Welbi dan Bembi berusaha menemukan Unicorn kembali.
Trio B itu terdiri dari dua bocah cerdik bernama Welbi dan Bima, serta satu monyet lincah bernama Bembi. Ketiganya dimintai pertolongan oleh Ratu Peri Bianglala, penguasa Negeri Hutan Jamur, untuk mencari Unicorn yang hilang. Unicorn merupakan seekor hewan unik menyerupai kuda. Namun ia memiliki tanduk emas di atas kepalanya.
Berbagai rintangan harus dihadapi Trio B dan warga Negeri Hutan Jamur untuk menuntaskan kasus ini. Apakah mereka berhasil? Penasaran dengan akhir ceritanya?
Jika belum sempat nonton operanya dapatkan :1 buku operet (cerita "The Tale of Missing Unicorn + aktivitas mewarnai +games & vocabulary) = seharga Rp. 75.000
Sinopsis :
Peri Ratu Bianglala, pemimpin para peri Hutan Jamur, sedang dirundung duka. Hati Ratu nan jelita senantiasa diselimuti diselimuti rindu semenjak Unicorn kesayangannya di culik oleh Raja Kurcaci Hitam. Unicorn dan tiga peri penjaganya, Peri Hu-Huhu-Huhuhu, ditawan oleh kawanan Monster Batu, Peri Api dan Gerombolan Gajah Payah.
Pier dan Piku, dua peri kepercayaan sang Ratu, mengusulkan untuk minta bantuan Trio B. Maka, diutuslah mereka masuk ke dunia manusia menemui tiga sekawan, Welbi, Bima dan Wembi untuk dimintai pertolongan. Mampukan mereka membebaskan Unicorn?
Mampukah mereka menghadapi kawanan Kurcaci Hitam yang nakal dan jahat? Ikutilah kisah petualangan yang seru dan menegangkan Tiga Sekawan Trio B ini.
Buruan beli nanti kehabisaaaannnnnn.....loh.
Rabu, 29 April 2009
The Tale of Missing Unicorn
My First PaperBee
Treasure of The World Borobudur
My First PaperBee Treasure of The World: Borobudur, mengantar Anda sekeluarga berpetualang kembali ke masa keemasan Dinasti Sailendra di abad ke-8. Memberi Anda dan Keluarga pengalaman menakjubkan membangun monumen Buddha terbesar dan termegah yang menjadi harta karun dunia paling berharga.
My First PaperBee ini disertai dengan Beepedia Borobudur yang berisi berbagai fakta menarik mengenai sejarah, pembangunan, dan rancang bangun Borobudur. Selamat Bertualang dan menikmati kemegahan warisan kejayaan bangsa Indonesia di Rumah Anda.
Spesifikasi Produk :
Ukuran : PxLxT : 43x43x11,5 cm
Bahan : AC 400 gr, Full Color
Kemasan :
Ukuran : 38x38 cm
Bahan Eflute Lapis diplex 250 gr, Full Color
Buku Borobudr :
Ukuran : 18,5x19,5 cm
Cover : AC 210 gr, 4/0. UV 1/0
Isi : Matt Papper 85 gr, 4/4, 24 Halaman
Finishing : Jahit Kawat
Senin, 21 April 2008
Rabu, 09 April 2008
Kiat menumbuhkan kegemaran membaca pada anak
Bagaimana hal itu terjadi dan apa yang dapat anda lakukan
Parents who love reading, kids who don’t)
Mary Leonhardt. Jakarta: Grasindo, 1997.
Banyak orangtua di Amerika Serikat yang merasa prihatin saat menyadari bahwa anak-anak mereka tidak suka membaca. Mereka menyadari keuntungan dari kegemaran membaca yang merupakan kegiatan yang dapat memperkaya hidup dan dapat mengganti kekosongan waktu dengan kegembiraan dan kesenangan.
Dari pengamatan, anak-anak yang gemar membaca (kutu buku) akan memiliki keunggulan dibandingkan dengan anak yang tidak suka membaca. Kegiatan membaca akan memudahkan pengembangan konsentrasi lisan karena anak sering menerima masukan informasi lisan dari buku yang dibacanya. Melalui membaca, anak-anak akan mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang luas sehingga mereka bisa mengikuti dan menikmati suatu diskusi dibandingkan dengan teman-temannya yang tidak suka membaca. Mereka lebih mudah mengolah informasi baru, mempunyai lebih banyak tambahan ide, dan lebih cepat melihat kepelikan yang ada. Selain itu, karena mereka mempunyai kosa kata yang banyak dan beragam, mereka akan mudah menulis dengan baik dan mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka. Yang lebih menggembirakan, anak yang gemar membaca akan mampu mengatasi masalah pribadi dan mempunyai kesempatan yang lebih baik untuk meraih kehidupan yang sukses.
Mengapa begitu banyak anak dan remaja tidak suka membaca? Jawabannya adalah: itu karena kesalahan orangtua. Jika anak tidak senang buku, itu karena orangtua mereka tidak cukup membacakan dongeng. Ketika anak beranjak besar, mereka tidak suka membaca karena orangtua mereka mengizinkan mereka banyak menonton televisi. Kerugian besar tidak dapat dihindari, jika anak-anak dibesarkan di rumah yang tanpa buku, dan tanpa orangtua yang suka membaca. Kerugian semakin besar karena kebanyakan kecintaan membaca hanya bisa diajarkan oleh orangtua.
Untuk mengembangkan minat baca perlu adanya campur tangan sekolah. Sekolah perlu memberikan fasilitas yang kondusif dengan menyediakan bahan bacaan yang sudah dikenal oleh anak-anak dan melengkapi dengan kursi dan bantal yang nyaman, dan juga kelas dipimpin oleh guru-guru yang senang mambaca. Saat anak-anak semakin baik dalam membaca, guru dapat mengembangkan mereka dengan buku anak-anak nonfiksi yang bervariasi. Dengan demikian, mereka akan memperoleh beragam pengetahuan yang tidak mereka dapatkan dari buku pegangan wajib yang sederhana dan membosankan.
Bagaimana menciptakan kesenangan membaca? Yang harus diingat adalah tidak memaksa anak-anak membaca banyak bacaan. Biarkanlah mereka membaca sedikit di rumah pada awalnya, daripada mereka membaca banyak hanya karena kita memaksanya. Kemudian, berikanlah anak-anak bahan bacaan yang mudah untuk dinikmati dan menyenangkan. Biarkanlah anak-anak membaca buku-buku yang membuat mereka merasa bahwa mereka adalah pembaca yang baik dengan menanyakan pendapat mereka tentang buku yang mereka baca. Jika Anda sudah mengetahui, buku-buku macam apa yang mereka sukai dan mengasyikkan bagi mereka, berusahalah untuk mencari dan memberikannya kepada mereka.
Jika anak Anda adalah termasuk anak yang enggan membaca, baik karena ia tidak suka maupun karena ia tidak mampu membaca, sebaiknya Anda tidak perlu berputus asa. Ada baiknya Anda mencoba tahap-tahap berikut:
1.Berikan anak buku dan majalah yang penuh dengan gambar-gambar yang menarik. Biarkan ia membolak-balik buku-buku atau majalah tersebut. Sekali-kali, cobalah memintanya memilih buku/majalah sendiri untuk mengetahui minatnya.
2.Biarkan ia membaca komik, majalah dan koran. Janganlah berpikir bahwa ketiga jenis bacaan tersebut bacaan yang buruk atau tidak bermutu. Untuk anak yang minat bacanya rendah atau kemampuan membacanya rendah, bacaan tersebut memiliki beberapa kelebihan, yaitu: komik memiliki karakter, garis cerita, jenis bahasa, dan nada yang sama. Sedangkan, majalah dan koran memiliki artikel dan cerita pendek yang dapat dibaca dalam waktu yang singkat oleh orang yang tidak suka membaca. Di samping itu, ada gambar yang bisa membantunya menerka arti kata yang tidak ia mengerti. Biarkan anak membaca bacaan tersebut, tetapi mulailah menggerakkannya untuk membaca buku.
3.Berikanlah buku pertama kepada anak dengan ciri-ciri: yang memiliki penuturan cerita yang dilakukan dari sudut orang pertama; atau buku humor, karena anak seringkali terkesan pada buku yang lucu.
4.Tahap berikutnya, umumnya anak menolak membaca buku lain di luar tulisan pengarang yang disukainya. Oleh karena itu, seringkali orangtua kerepotan menghadapinya. Namun, sebaiknya orangtua tetap mendukung dengan mencoba mencarikan buku yang disukainya.
5.Selanjutnya adalah pengembangan. Orangtua harus mulai memperkenalkan bacaan lain di luar dari yang disukai anak. Anda bisa menyarankan buku jenis yang sama dari pengarang yang berbeda. Ini adalah waktu yang baik untuk mulai memanfaatkan perpustakaan sehingga jika anak tetap tidak ingin membacanya, Anda bisa mengembalikannya.
6.Berikan dukungan untuk peralihan ke bacaan yang lebih luas. Jika Anak sudah terpikat pada buku kesenangannya, memberikan tugas membaca klasik akan membantunya me-ngembangkan bacaan. Ia akan dapat menikmati buku lain selain yang disenangi-nya. Anda sudah bisa menawarkan buku-buku yang pernah Anda senangi.
7.Biarkan anak mencari buku sendiri. Pada tahap ini anak sudah mempunyai kebutuhan terhadap buku. Ia perlu sesuatu untuk dibaca. Ia menemukan pengarang-pengarang baru. Ia juga mencoba jenis-jenis fiksi baru. Ia selalu mencari buku berikutnya.
8.Akhirnya, anak Anda menjadi kutu buku sejati karena ia sudah tidak bisa lepas dari buku. Ia tidak bisa kalau tidak membaca.
Orangtua harus menciptakan rumah sebagai tempat yang menyenangkan. Salah satu hal yang mungkin terjadi yaitu rumah Anda akan berantakan karena bisa jadi buku-buku akan tercecer dimana-mana. Selain itu, kesenangan membaca akan membutuhkan banyak biaya sehingga orangtua harus siap mengeluarkan sejumlah uang untuk pembelian buku-buku atau bahan bacaan lainnya.
Tentang televisi dan bacaan, belum ada keterkaitan yang jelas antara kegiatan membaca dan menonton televisi. Membatasi televisi tidak selalu mengarah pada peningkatan membaca; demikian juga sebaliknya, memperbolehkan menonton TV belum tentu mengurangi aktivitas membaca. Kadang-kadang membatasi televisi akan mendorong minat baca, namun seringkali juga tidak berhasil. Dalam kasus-kasus tertentu, upaya membatasi televisi menyebabkan anak-anak marah, bahkan membuat mereka bosan membaca, dan hanya mendorong mereka untuk melanggar peraturan. Aturan tentang menonton televisi sebaiknya telah diajarkan sejak usia prasekolah. Jika anak pada usia ini terbiasa untuk tidak terlalu sering menonton televisi dan lebih banyak membaca, maka ia nantinya akan lebih memilih membaca daripada menonton televisi. Usaha ini akan kurang berhasil jika diterapkan pada anak yang lebih besar mengingat mereka sudah tahu apa yang mereka inginkan, artinya jika mereka dilarang menonton televisi di rumahnya, ia akan pergi ke rumah teman untuk mendapatkannya. Namun, jika anak Anda banyak membaca dan juga menonton televisi, sebaiknya Anda membiarkan saja.
Untuk mempersiapkan anak berusia 3 atau 4 tahun (usia prasekolah) menjadi seorang pembaca yang andal adalah dengan membacakan cerita setiap saat. Hal ini akan menghindarinya mendapat kesulitan belajar di sekolah. Jika Anda berniat mengajarkan membaca, ajarkan abjad terlebih dahulu. Setelah pelajaran abjad berlangsung lancar, Anda bisa melanjutkan ke bunyi, terutama bunyi awal dari abjad-abjad yang sering digunakan. Pelajaran yang demikian bisa dilakukan dengan permain-an. Pengenalan abjad dapat dimulai ketika anak berusia tiga tahun dan pengenalan bunyi dimulai usia sekitar tiga setengah tahun. Namun, hal ini banyak tergantung pada si Anak. Ada anak yang lebih cepat, dan ada yang lebih lambat. Akan tetapi, jika Anda membuatnya menjadi ringan dan menyenangkan, tentu tidak akan menyulitkannya.
Setelah anak Anda mulai mengenali bunyi-bunyi awal, Anda dapat mulai dengan kata. Cara mengajarkan kata-kata yang mudah dan menyenangkan adalah dengan menempelkan setiap benda dengan tulisan yang mewakili benda itu (contoh: meja ditempeli tulisan “meja”). Sebaiknya, Anda hanya menempeli beberapa benda saja, selanjutnya biarkan anak yang menemani Anda menempelkan kartu yang ada pada benda yang tercantum. Cara lain adalah dengan memberikan kesempatan kepadanya untuk memiliki satu kata yang disukainya pada saat Anda mebacakan cerita untuknya. Jadi, setiap kali Anda tiba pada kata tersebut Anda berhenti dan biarkan dia yang menyebutkannya. Dengan cara ini, ia akan dapat dengan cepat menguasai, dua-tiga kata, atau lebih.
Untuk mendukung kemampuan membaca secara terus menerus, maka pada saat anak Anda harus bersekolah, Anda harus memilihkan sekolah yang dapat menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak untuk membaca. Carilah sekolah yang guru-gurunya menyenangi murid-muridnya, yang rasio guru-siswanya rendah dan memiliki daya tampung kelas yang memadai; yang gaya mengajarnya berbeda-beda; dan yang memiliki pelayanan konsultasi yang baik. Karena kegiatan membaca dapat membantu pembentukan pribadi anak yang cakap dan mandiri sehingga anak mampu memecahkan masalahnya sendiri, maka sebaiknya orangtua terus mendukung aktivitas membaca dan terus mengarahkan anak-anaknya dengan bijaksana sesuai dengan apa yang seharusnya.
Belajar yang Menyenangkan
Shelfie Tjong, S.Psi.
“Belajar lagi, belajar lagi……..bosan ahh…….!”, gerutu sebagian besar anak-anak saat disuruh belajar. Biasanya mereka juga tidak langsung menurut bila disuruh belajar, tapi berusaha menghindar dengan berbagai alasan. Mereka lebih tertarik untuk bermain atau menonton Doraemon atau mengikuti berbagai kegiatan lain daripada harus belajar. Bukan hanya ini saja kesulitan yang dihadapi orangtua. Sejak pagi hari orangtua sudah cukup dibuat repot saat membangunkan anak-anak untuk sekolah, tugas yang barangkali lebih sulit daripada pekerjaan di kantor.
Saya ingat pengalaman saya sendiri semasih kecil dulu, orangtua harus membangunkan saya berulang kali hingga saya benar-benar beranjak dari tempat tidur. Karena harus mengantri kamar mandi, sambil menunggu biasanya saya tertidur lagi. Kadang-kadang dalam keadaan baru bangun kesadaran masih belum penuh sehingga gerakan pun serba lambat, sedangkan ibu dalam kepanikannya harus mengurus banyak hal, seperti menyiapkan sarapan dan bekal untuk suami dan anak-anak serta berbagai hal kecil lainnya. Harus diakui bahwa tugas membangunkan anak untuk sekolah paling banyak menyita waktu, energi, dan emosi orangtua.
Selain pengamatan umum tentang ketidaksukaan anak terhadap kegiatan belajar ini, ada pula dukungan survai yang dilakukan oleh Tony Buzan. Tiga puluh tahun lamanya ia melakukan penelitian yang berkaitan dengan asosiasi seseorang terhadap kata “belajar”. Waktu ditanyakan kepada responden kesan apa yang muncul dalam pikiran mereka saat mendengar kata “pendidikan” atau “belajar”, jawabannya adalah “membosankan”, “ujian”, “pekerjaan rumah”, “buang-buang waktu”, “hukuman”, tidak relevan”, “tahanan”, ‘idih’….., “benci dan takut”.
Dapat disimpulkan bahwa belajar dan sekolah bukanlah hal yang menyenangkan bagi anak-anak. Padahal saat anak-anak belum cukup umur, mereka merengek-rengek mau ikut sekolah bersama kakaknya. Mereka juga senang menulis dan menggambar atau membuka-buka buku walaupun belum mengerti isinya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan anak-anak kita ini? Apakah karena belajar telah menjadi semacam pemaksaan dan beban saat anak mulai bersekolah sehingga keasyikan mereka menguasai keterampilan menjadi hilang?
Apakah Belajar Itu?
Belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang bersifat menetap melalui serangkaian pengalaman. Belajar tidak sekadar berhubungan dengan buku-buku yang merupakan salah satu sarana belajar, melainkan berkaitan pula dengan interaksi anak dengan lingkungannya, yaitu pengalaman. Hal yang penting dalam belajar adalah perubahan perilaku, dan itu menjadi target dari belajar. Dengan belajar, seseorang yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa. Kita perlu memperluas pemahaman tentang belajar tidak hanya pada pengetahuan yang bersifat konseptual, melainkan juga hal-hal yang menyangkut keterampilan serta sikap pribadi yang mempengaruhi perilaku seseorang.
Ada empat area yang disentuh berkenaan dengan belajar yaitu:
1. Citra diri dan perkembangan kepribadian
2. Latihan keterampilan hidup
3. Cara berpikir atau pola pikir
4. Kompetensi atau kemampuan yang bersifat akademik, fisik, dan artistik.
Selain itu ada satu area lagi yang menurut penulis sangat penting yaitu area yang bersifat rohani, yang menyangkut pengenalan seseorang terhadap Tuhan.
Tony Buzan, seorang psikolog dari Inggris, mengatakan demikian; “Pada saat seorang anak dilahirkan, ia sebetulnya benar-benar brilian.” Sebab itu, adalah salah jika orangtua beranggapan anaknya bodoh. Bila ia dikatakan bodoh, maka kemungkinan ia akan menjadi bodoh. Saran yang diberikan adalah agar anak mendapatkan sebanyak mungkin latihan fisik yang menggunakan tangan dan kaki seperti merangkak, memanjat, dan sebagainya. Orangtua perlu memberi kesempatan pada anak-anak untuk belajar dari kesalaha, yaitu melalui trial and error (coba-salah). Anak-anak suka ber-eksperimen, mencipta, dan mencari tahu cara bekerjanya sesuatu. Mereka juga suka pada tantangan. Sebab itu penting bagi orangtua untuk memperluas dunia anak mereka, tidak terbatas hanya di rumah saja.
Anak-anak juga cenderung bertanya tentang segala hal yang tampak baru bagi mereka. Untuk itu dibutuhkan kesabaran orangtua untuk mendengarkan dan menjawab pertanyaan mereka. adalah kurang bijaksana jika orangtua menanggapi pertanyaan anak dengan mengatakan; “Sudah, kamu anak kecil nggak usah tanya-tanya, bawel amat, sih, “atau; “Kamu masih kecil, nanti sudah besar juga akan tahu sendiri.” Dalam hal ini orangtua sebenarnya sedang mematikan rasa ingin tahu anak. Padahal rasa ingin tahu ini adalah hal yang sangat penting dalam proses belajar.
Ada orangtua yang beraksi dengan cara lain, yaitu dengan tidak menghiraukan atau mendiamkan anak, atau hanya menjawab seadanya agar anak segera berhenti bertanya. Pola asuh yang demikian tentu tidak mendukung metoda CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) yang berusaha diterapkan di sekolah-sekolah sekarang ini. Sadar atau tidak, pola asuh orangtua atau cara guru mengajar memiliki andil dalam membentuk anak-anak kita menjadi aktif atau pasif. Bagi anak, bertanya merupakan modal dasar mereka untuk belajar.
Selain itu, anak juga banyak belajar dengan cara meniru orang dewasa. Mereka mencontoh orang dewasa dengan melihat dan mengamati, atau dengan mendengar. Karena itulah, kita tidak usah heran mendengar anak kita tiba-tiba mengucapkan kata-kata makian atau kata kasar yang tidak pernah kita ajarkan. Mungkin mereka mendengar makian itu dari pembantu, dari televisi, atau dari kita sendiri. Saat anak mengucapkan kata-kata kasar seperti itu, saat itu juga orangtua perlu memberi penjelasan tentang arti kata-kata tersebut beserta dampaknya dan berusaha mengoreksinya.
Usia Efektif Belajar.
Kapan waktu yang paling tepat bagi seorang anak untuk belajar secara optimal? Teori perkembangan kognitif Piaget memberi penekanan pada faktor kematangan atau kesiapan dalam belajar, artinya ada masanya bagi seorang anak untuk belajar sesuatu. Sebab itu adalah sia-sia jika kita mengajarkan sesuatu kepada anak sebelum waktunya. Misalnya, anak yang belum memasuki tahap perkembangan kognitif praoperasional (2-7 tahun) umumnya masih akan mengalami kesulitan dalam belajar bahasa karena belum mampu menggunakan simbol-simbol. Oleh karena itu, penganut teori Piaget berpendapat bahwa adalah sia-sia mengajar bahasa (di luar bahasa ibu) kepada anak usia di bawah lima tahun.
Namun belakangan ini berkembang teori belajar yang bisa kita baca dalam buku Accelerated Learning for the 21st Century oleh Colin Rose dan Malcolm J. Nitcholl, yang mengatakan bahwa sejak lahir sampai dengan usia 10 tahun adalah masa-masa yang sangat penting dan peka bagi anak untuk belajar. Disebutkan bahwa 50% kemampuan belajar anak dikembangkan pada masa empat tahun pertama, 30% dikembangkan menjelang ulang tahunnya yang ke-8, dan tahun-tahun yang amat penting tersebut merupakan landasan atau penentu bagi semua proses belajarnya di masa depan.
Berdasarkan teori tersebut, anak perlu diberi banyak rangsangan pada masa empat tahun pertama agar ia belajar dan menyerap banyak hal. Tahun-tahun pertama inilah yang justru merupakan saat tepat dan ideal bagi anak untuk belajar lebih dari satu bahasa. Dikatakan juga bahwa semua anak sebenarnya jenius di bidang bahasa. Jadi, dapat disimpulkan bahwa saat terbaik untuk mengembangkan kemampuan belajar adalah sebelum masuk sekolah, karena sebagian besar jalur penting di otak dibentuk pada tahun-tahun awal tersebut. Dalam hal ini, orangtua memegang peranan sangat penting dalam meletakkan fondasi bagi pengembangan kemampuan belajar anak.
TIPS-TIPS PRAKTIS
Berikut adalah kiat-kiat praktis agar belajar menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi anak.
1.Ciptakan Lingkungan Tanpa Stres (Rileks).
Seorang ibu mengeluh bahwa anaknya yang baru kelas 3 SD sudah dapat mengungkapkan bahwa dirinya stres. Jika dipikir-pikir, anak-anak mendapatkan banyak tekanan, baik dari guru-guru di sekolah maupun orangtua dengan harapan-harapan yang terkadang kurang realistis demi terpenuhinya cita-cita orangtua yang dulu tidak berhasil dicapai.
Orangtua hendaknya tidak terlalu menekankan nilai, kelulusan, dan gelar, sebab hakekat belajar bukan terletak pada itu semua. Saya ingat sekali pengalaman saya sewaktu di SD. Saya sangat lemah dalam bidang matematika. Setiap kali akan ulangan matematika, orangtua saya membuatkan soal latihan banyak sekali yang mencakup seluruh materi pelajaran yang telah diajarkan. Pada hari itu saya pasti tidur sangat malam karena orangtua terus mendesak saya menyelesaikan semua soal yang ada sampai saya menangis-nangis memohon agar hal ini segera diakhiri. Hingga keesokan paginya pun, orangtua saya tetap berusaha menggunakan menit-menit terakhir bahkan terkadang sampai di gerbang sekolah pun saya masih dijejali rumus-rumus yang harus dihafalkan.
Tidak dapat disangkal bahwa akhirnya kepanikan orangtua juga menular pada diri saya sehingga betapa keras pun usaha orangtua mengajar saya, nilai saya tetap jelek, kadang-kadang pas-pasan. Yang jelas, sejak itu saya jadi agak alergi dengan pelajaran matematika.
Anak tidak bisa belajar efektif dalam keadaan stres. Syarat pembelajaran yang efektif adalah lingkungan yang mendukung dan menyenangkan. Belajar perlu dinikmati dan timbul dari perasaan suka serta nyaman tanpa paksaan. Untuk menciptakan lingkungan tanpa stres bagi anak, penting bagi orangtua agar rileks dan tidak menetapkan target atau menuntut anak melebihi kemampuannya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan tuntutan dari orangtua dengan budaya yang berbeda. Orangtua dari budaya Jepang dan Cina menetapkan standar yang lebih tinggi terhadap prestasi anak, mengevaluasi dengan ketat hasil yang diperoleh, dan mendorong anak untuk bekerja lebih keras. Sedangkan orangtua Amerika lebih menekankan kemampuan dasar (IQ) anak daripada kerja keras dalam mencapai prestasi akademik. Sebenarnya perlu bagi orangtua untuk merefleksi diri dan menjawab dengan jujur pertanyaan; “Apakah yang saya lakukan ini adalah untuk kepentingan anak saya atau untuk kepentingan diri saya sendiri?”
2.Manfaat Sarana Bermain untuk Belajar.
Dunia anak adalah dunia bermain. Bermain adalah metode belajar yang paling efektif. Anak-anak belajar dari segala kegiatan yang mereka lakukan. Kuncinya adalah bagaimana mengubah kegiatan bermain menjadi pengalaman belajar. Ketika anak merasa senang dan nyaman, ia akan mampu belajar dengan baik. Bagi anak kecil yang sedang belajar menghafal kata-kata yang berlawanan seperti kata atas dan bawah, sambil bermain bola kita bisa mengucapkan “jika bola dilempar ke atas pasti akan jatuh ke bawah”, belajar kata nyala dan padam dengan memainkan lampu, belajar kata buka dan tutup melalui pintu yang dibuka dan yang ditutup, dan seterusnya. Bagi anak yang lebih besar, saat ulangan pelajaran hafalan, orangtua dapat menanyakan kembali melalui permainan tebak-tebakan dengan sistem poin. Jumlah poin yang diperoleh dapat ditukar dengan makanan kesukaannya. Yang ingin ditekankan di sini bukan pada permainan-nya, tapi kegembiraan yang menyertai.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor emosi sangat penting dalam proses pembelajaran dan pendidikan. Ketika suatu pelajaran melibatkan emosi positif yang kuat, umumnya pelajaran tersebut akan terekam dengan kuat pula dalam ingatan. Untuk itu, dibutuhkan kreatifitas guru dan orangtua untuk menciptakan permainan-permainan yang dapat menjadi wadah dan sarana anak untuk belajar, misalnya melalui drama, warna, humor, dan lain-lain.
3.Gunakan Kelima Indra Anak sebagai Jalur Belajar.
Bagian neokorteks dari otak kita terbagi dalam beberapa fungsi khusus seperti fungsi berbicara, mendengar, melihat dan meraba. Kita menyimpan memori-memori indrawati di tempat yang berbeda. Jika ingin memiliki memori yang kuat, kita harus menyimpan informasi dengan mengguna-kan semua indera kita - melihat, mendengar, berbicara, menyentuh, dan membaui. Anak-anak umumnya belajar melalui pengalaman konkret yang aktif. Untuk memahami konsep ‘bulat’ yang abstrak, seorang anak perlu bersentuhan langsung dengan benda-benda bulat, apakah itu dengan cara melihat dan meraba benda bulat atau dengan cara menggelindingkan bola. Menurut Vernon A. Magnesen dalam Quantum Teaching, kita belajar 10% dari apa yang kita baca; 20% dari apa yang kita dengar; 30% dari apa yang kita lihat; 50% dari apa yang kita lihat dan dengar; 70% dari apa yang kita katakan; dan 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan.
4.Pakailah Seluruh Dunia Sebagai Ruang Kelas.
Ubahlah segala sesuatu yang ada di sekitar kita menjadi pengalaman belajar. Marzollo dan Lloyd berkata demikian; “Semuanya tersedia di sekitar Anda.” Berikut ini adalah beberapa ide kreatif dari buku Revolusi Cara Belajar, oleh Gordon Dryden & Dr. Jeanette Vos: ” Belajar tentang berbagai bentuk.
Bentuk lingkaran bisa dilihat pada roda, balon, matahari, bulan, kacamata, mangkok, piring, uang logam; sedangkan persegi panjang bisa dilihat pada pintu, jendela, buku, kasur. Bujursangkar bisa dilihat di layar komputer, televisi, kotak tissu, saputangan, taplak meja; sedangkan segitiga bisa dilihat pada pohon Natal, rumah, gunung, dan tenda.
” Belanja di supermarket menjadi petualangan belajar. Sebelum belanja, minta anak-anak Anda untuk mengecek kulkas dan seluruh isi rumah, kira-kira apa saja yang dibutuhkan oleh mereka dan seluruh anggota keluarga. lalu diadakan lomba waktu berada di supermarket. Siapa yang paling cepat dan paling banyak menemukan barang-barang yang dibutuhkan, dialah yang menang. ” Belajar menghitung benda-benda nyata Minta anak untuk menghitung benda-benda yang dapat disentuhnya, misalnya; “Kamu punya satu hidung dan berapa mata? Berapa jarimu?” libatkan juga anak ketika Anda menyiapkan meja untuk dua, tiga, atau empat orang. Atau biarkan anak Anda yang menghitung uang ketika membayar di kasir.
“Belajar mengkategorikan sesuatu. Otak menyimpan informasi melalui asosiasi (persamaan) dan penggolongan atau kategori dan Anda bisa menciptakan kegiatan bermain anak sambil bekerja. Waktu Anda hendak membereskan pakaian, anak bisa diminta untuk memilah-milah berdasarkan warna pakaian, jenis pakaian, maupun pemilik. Dengan demikian, Anda dapat tetap mengerjakan tugas rumah tangga sambil anak juga belajar tentang sesuatu.
5. Pentingkan dorongan positif.
Berdasarkan penelitian, anak sejak usia dini rata-rata menerima enam komentar negatif untuk satu dorongan positif yang diterimanya. Saya kira, tingkat perbandingan dorongan positif dan negatif di Indonesia akan jauh lebih besar. Kebanyakan kita dibesarkan dalam lingkungan dengan komentar negatif yang lebih banyak daripada yang positif. Padahal dorongan positif memiliki kekuatan yang sangat besar untuk membangun rasa percaya diri anak dan memacu semangat agar anak berprestasi dengan lebih baik lagi. Sebagai orangtua yang mungkin dibesarkan dalam keluarga yang lebih banyak memberikan komentar negatif, seyogyanya kita lebih berhati-hati agar kita tidak mengulang kesalahan yang sama pada anak-anak kita.
6. CINTA adalah resep penting dalam pendidikan anak.
Prof. Diamond, seorang ahli saraf, mengingatkan bahwa cinta merupakan resep paling penting dalam dunia pendidikan anak. Kehangatan dan kasih sayang adalah faktor utama dalam mendukunga perkembangan seutuhnya. Sentuhan emosi memberikan dampak besar dalam proses belajar anak.
Perlu diketahui bahwa kapasitas otak manusia tidak terbatas. Seseorang bisa terus belajar sejak lahir sampai akhir hidupnya. Menurut Antonia Lopez, “Tugas utama orang dewasa adalah menyediakan sebanyak mungkin kesempatan yang sesuai dengan tingkat umur dan mengembangkannya secara bertahap.” Otak pun akan mampu bekerja secara efektif bila digunakan secara teratur. Ada pepatah kuno berbunyi demikian; “If you don’t use it, you lose it”-Jika tidak digunakan, Anda akan kehilangan otak Anda.
Gemar Membaca
(sumber : kak-seto.com)
Buku adalah jendela pengetahuan. Dengan membaca buku, kita dapat menyerap banyak informasi, dapat berkelana ke berbagai negara, bahkan ke dunia dongeng sekalipun. Pendeknya, dengan membaca, wawasan pengetahuan kita akan semakin luas. Namun, sayangnya tidak semua anak gemar membaca. Nah, bagaimana caranya membuat anak kita gemar membaca?
Kenalkan buku sejak dini.
Buku cerita yang cocok untuk balita adalah yang memiliki banyak gambar dengan tulisan yang sedikit. Gambar yang berwarna akan lebih menarik daripada gambar yang hitam putih. Biarkan anak memilih sendiri buku yang ingin dibacanya, sehingga ia lebih antusias dalam membaca.
Bacakan buku cerita dengan menarik.
Dalam membaca cerita, usahakan sehidup mungkin sehingga anak dapat merasa seolah-olah berada di dalam cerita tersebut. Atur nada suara dan bumbui dengan gerakan-gerakan tubuh yang berekspresi untuk membangun suasana yang hidup. Bahkan bayi pun dapat menikmati buku yang dibacakan, yaitu dari irama suara dan kehangatan tubuh pembaca yang memangkunya.
Model orang tua.
Orang tua harus menjadi contoh yang baik. Bila orang tua gemar membaca, menyediakan bacaan yang memadai dan mengatur suasana rumah yang mendukung untuk membaca, maka niscaya anak akan ikut gemar membaca.
Membuat Anak Kecanduan Membaca
Oleh : DWI PRIHASTUTI
Librarian SD Al-Falah Tropodo 1
Sumber : Jawa Pos, Selasa, 19 Desember 2006
Setelah menikah, saya tinggal bersama suami di daerah Sedati. Satu saat, ketika saya pulang ke rumah di daerah Kebraon pada hari libur, keponakan saya yang berumur 3 tahun menyambut dan menanyakan oleh-oleh.
Karena saya tidak membawa oleh-oleh, saya menjanjikan untuk jalan-jalan dan beli jajanan atau mainan yang dia mau. Saya dan suami sangat terkejut ketika keponakan saya tadi berkata bahwa dirinya tidak mau jajanan atau mainan, melainkan buku. Sungguh jawabannya di luar dugaan dan diluar kebiasaan anak seusianya.
Ketika banyak anak seusianya berpikiran tentang jajanan dan mainan favorit, keponakan saya yang bernama Nazhmi justru berpikiran tentang buku favoritnya, yaitu buku tentang hewan-hewan. Ketika mencoba merenungi peristiwa tersebut, saya tersenyum dan bersyukur bahwa kebiasaan saya membaca dan mencintai buku menular kepada Nazhmi.
Sejak kecil Nazhmi tinggal bersama saya dan orang tua. Kami sangat dekat. Sejak kecil pula (dibawah satu tahun), saya mengenalkan bermacam buku bacaan kepadanya. Kebetulan, saat itu saya bekerja sebagai pustakawati di Mobil Pustaka Kita PBA Sampoerna yang memiliki bermacam koleksi buku anak-anak yang sangat bagus dan bermutu.
Berbagai buku yang saya kenalkan dan bacakan tiap hari, ternyata, membentuk kebiasaan “membaca” pada diri Nazhmi. Kebiasaan saya membacakan buku tanpa disadari turut berpengaruh terhadap daya ingatnya!
WaIau hanya sekali dibacakan, Nazhmi langsung mampu mengingat isi cerita buku tersebut. Ketika suami saya ditodong Nazhmi untuk membacakan buku yang lama dan ternyata salah ucap, dengan cepat Nazhmi menegur, yang membuat suami saya tersipu malu.
Bacaan itu, rupanya, memperkuat daya ingat Nazhmi. Ketika usianya baru 2,5 tahun, dia sudah mampu mengingat berbagai jenis burung yang ada di buku berjudul 100 Pengetahuan. tentang Burung. Padahal, lebih dari 100 macam burung ada di buku tersebut!
Mengingat apa yang telah dicapai Nazhmi membuat saya bahagia sekaligus bersedih. Saya bahagia karena Nazhmi merupakan bukti bahwa jika kita ingin anak hobi membaca, itu harus dimulai sejak dini. Sebaliknya, saya sedih karena tidak semua anak mempunyai kesempatan dan lingkungan seperti Nazhmi. Dalam sebuah penelitian terungkap bahwa minat baca siswa sekolah dasar di Indonesia berada pada peringkat 26 di antara 27 negara yang diteliti! Rendahnya minat baca siswa SD di Indonesia juga menunjukkan rendahnya perhatian berbagai pihak (pemerintah sekolah, dan orang tua) tentang pentingnya membaca.
Kita pasti menyadari bahwa budaya membaca sangat terkait erat dengan tingkat kemajuan sebuah bangsa (lihat juga wawancara dengan sastrawan Suparto Brata, Metropolis, Minggu. 17/12). Semakin tinggi budaya baca pada sebuah negara, semakin maju pula negara tersebut. Jepang dan negara-negara maju lainnya adalah bukti nyata mengenai pentingnya budaya membaca sejak usia dini.
Bisa Mulai Nol Tahun.
Pendapat ahli menyatakan, mengenalkan budaya membaca dapat dimulai saat bayi masih berusia nol tahun. Saya telah membuktikan bahwa mulai usia dibawah satu tahun (saya mulai mengenalkan budaya membaca ketika Nazhmi berumur enam bulan) Nazhmi mampu menangkap dan merekam apa yang kita sampaikan. Bahkan, anak saya sejak nol tahun telah dikenalkan pada budaya membaca.
Mengenalkan budaya membaca bisa dimulai dengan membacakan buku-buku cerita bergambar dan berwarna saat dia terbangun. Ketika bayi Anda berusia 3-4 bulan dan mampu menyangga kepalanya Anda pangku dan bacakan buku cerita yang Anda pegang didepannya. Jangan membaca terlalu cepat serta mainkan intonasi Anda. Tinggi rendahnya intonasi suara Anda dalam membacakan cerita terbukti turut berperan dalam mengembangkan kecerdasan bayi Anda. Tidak ada salahnya para orang tua yang sudah memiliki anak usia SD, tapi tidak menunjukkan minat baca, mulai dirangsang untuk mau membaca. Ajak mereka mampir ke toko buku bila jalan-jalan ke mal. Bila dianggap mahal, ajak mereka membeli buku bekas, kunjungi perpustakaan atau taman bacaan.
Orangtua dapat memberikan reward atau sikap penuh perhatian jika sang anak mampu menyelesaikanan sate buku dan menceritakan isi buku tersebut. Selain itu, ada baiknya jangan usik anak-anak yang sedang asyik membaca untuk mengerjakan tugas-tugas rumah semisal menyapu, mencuci piring, atau membersihkan perabot-an. Hal itu akan makin mengena jika orang tua juga memberikan teladan, yaitu membiasakan membaca. Anak akan cenderung meniru orang tuanya. Rendahnya tingkat membaca bangsa kita juga disebabkan orang tua tidak suka buku sehingga menulari anaknya. Yang terpenting dalam mengenalkan budaya membaca pada anak-anak adalah tidak boleh ada unsur paksaan yang akan membuat anak semakin tidak suka membaca. Jadikan membaca sebagai aktivitas menyenangkan, seperti rekreasi. Sebenarnya, membaca adalah sebuah kenikmatan karena mampu memunculkan ima¬jinasi. Saat seseorang membaca, dia sedang bermain dengan imajinasinya (theatre of mind). Tentunya membahagia-kan apabila anak berkembang dengan imajinasi tinggi sehingga anak mampu menganalisis, berargumentasi, dan berlatih menggunakan logika. Itu semua didapat dari membaca buku yang bermutu, bukan tayangan televisi yang kerap ‘mematikan” imajinasi.


